Sempat Disepelekan Tetangga, Petani Milenial ini Sukses Berkat Budidaya Trigona

Habiburrahman, peternak madu trigona asal Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). (Foto: Sariagri/Yongki)

Penulis: M Kautsar, Editor: Reza P - Senin, 9 Agustus 2021 | 18:40 WIB

SariAgri - Seorang pemuda asal dataran tinggi Dusun Pelolat, Desa Bengkaung, Kecamatan Batulayar, yakni Habiburrahman (21 tahun), mampu menjadi inspirasi bagi kaum milenial di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia berhasil menjadi juara dalam ajang pemuda pelopor tingkat provinsi dengan hanya menjadi petani madu trigona.

Pemuda yang masih duduk di bangku kuliah tersebut menggeluti budidaya trigona sejak tahun 2018 lalu. Saat itu madu trigona belum dilirik oleh warga sekitar. Bahkan lebah trigona ini dikesankan kurang bagus karena dianggap hama dan sering masuk ke lubang telinga.

Namun demikian, Habiburrahman tidak putus asa. Berbekal biaya sendiri dan ilmu otodidak yang dia dapat dari Youtube, ia memulai usaha ini. Untuk mengawali budidaya madu trigona, awalnya ia harus membuat kotak sebagai tempat lebah menggunakan kayu.

"Tempat lebah ini saya pelajari dari youtobe, disamping itu juga saya pelajari dari keluarga yang terlebih dahulu membudidaya madu trigona," kata Habiburrahman.

Sebagian warga yang melihat kegiatannya itu banyak yang memberikan guyonan, mengiranya akan membuat mainan, kotak amal, bahkan ada juga yang mengiranya membuat sound system. Maklum orang tua Habiburrahman adalah tukang reparasi elektronik.

Kendati demikian, guyonan warga itu tidak dihiraukannya sama sekali. Ia justru terus membuat puluhan rumah lebah, sekaligus imembeli lebah trigona yang ada di kebun maupun rumah warga.

"Jumlahnya saat itu cukup banyak dan bertebaran di sana sini, saya beli waktu itu dengan harga murah sekitar 15 ribu per koloninya," ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, jumlah koloni lebah trigona yang ia miliki terus bertambah. Pesanan pun mulai berdatangan silih berganti.

Saat ini jumlah kotak lebah (stuff) miliknya sudah mencapai 379 buah. Dari jumlah itu, yang dia sumpah di sekitar halaman rumah sebanyak 150 kotak lebah, sedangkan 229 kotak lebah lainnya tersebar di rumah masyarakat sekitar maupun masyarakat dusun tetangga.

Tingginya jumlah pesanan madu trigona membuat Habiburahman tak ingin kemudian menyebarkan tempat lebah miliknya ke rumah-rumah warga. Puluhan warga yang ia berikan mengelola tempat lebah ini. Masing-masing diberikan lima buah sarang lebah

"Saya pilih yang bisa dipercaya. Karena ini kan harganya lumayan mahal, misalnya didapat hasil panen sebesar Rp150 ribu, maka saya mengambil Rp100 ribu, dan orang yang mengelola ini mendapat bagian Rp50 ribu," terangnya.

Ia tidak sekedar melepas sarang lebah di warga, tapi juga menyemaikan bibit tanaman berbunga di rumah warga tersebut. Tidak itu saja, ia juga memberikan edukasi kepada masyarakat yang mau budidaya trigona.

Pengelolaannya sendiri terbilang mudah alias tidak ada perawatan yang rumit. Yang penting di tempat itu banyak vegetasi, pohon-pohon berbunga sebagian tempat lebah cari makan.

Hasil budidaya trigona ini ia panen tiap 3 bulan sekali. Jumlah uang yang bisa ia dapat dari trigona ini mencapai lebih dari. Rp9 juta. "Ini yang saya pakai biaya kuliah. Dan nanti akan saya pakai untuk lanjutkan S2," kata dia.

Saat ini, ia pun terus berupaya memperbanyak koloni. Upaya yang dilakukan selain membeli lebah trigona di berbagai tempat, cara pengembangan yang dilakukannya adalah dengan melakukan pisah koloni agar lebah-lebahnya betah di sekitar tempat itu, Habib menanam sejumlah tanaman berbunga di halaman rumahnya.

"Misalnya, bunga pukul sembilan, cuplikan, bunga api-api dan sejumlah bunga lainnya, tapi yang paling bagus itu bunga matahari. Makanya saya banyak semai bunga matahari untuk saya sebar di rumah warga tempat saya titip stuff-stufg ini," jelasnya.

Ia pun berharap ada dukungan dari pemerintah untuk menangani kendala yang dihadapi seperti hama. Selain itu, budaya untuk menambah koloni lebah ini. "Karena saya target 1.000 koloni agar mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak,"ujarnya.

Usahanya untuk mengembangkan budidaya trigona ini tidak saja mampu dirasakan warga sekitar, ia juga mampu membiayai kuliahnya sendiri dan menghidupi keluarga.

Video Terkait