Kisah Sayatan Awis si Penjagal di Lebaran Kurban

Awis, tukang jagal di RPH Jatimulya, Kabupaten Bekasi saat mengeksekusi seekor sapi. (Foto: Sariagri/Dwi Rachmawati)

Editor: M Kautsar - Rabu, 21 Juli 2021 | 15:40 WIB

SariAgri - Bibir Awis, 35 tahun, mengumandangkan takbir. Tak putus, bibir itu segera melafazkan doa. Empat orang membantunya. Tugas empat orang itu tentu juga tak sederhana: mengikat dan merobohkan sapi.

Kokoh tangan Awis memegang golok. Sayatannya bergerak menggorok leher sapi yang sudah jatuh. Tak sampai sedetik prosesi itu selesai. Darah menyiprat seketika. 

Awis merupakan warga Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi. Selama 10 tahun terakhir dia berprofesi jadi tukang jagal hewan.

Saat Idul Adha tiba, dia mengaku kebanjiran panggilan. Jasanya menyembelih hewan diminati warga. Dalam sehari dia bisa menyembelih sekitar 30 ekor sapi.

“Kalo lagi Idul Adha gini ya memang kerjaan lebih banyak, sehari bisa motong sekitar 30 ekor,” ujar Awis kepada Sariagri di Rumah Potong Hewan (RPH) Jatimulya, Kabupaten Bekasi, Rabu (21/7).

Pria berkumis itu juga lihai ketika menangani sapi yang sudah mati. Tangan Awis dan empat rekannya dengan cepat menguliti seekor sapi. Pisau di tangannya seolah menari, memisahkan kulit dengan daging. Lagi-lagi, Awis dan rekannya tak butuh waktu lama. Hanya 15 menit.

Tapi, ucapan itu tak semudah kenyataan. Awis mengaku kerap berhadapan dengan sapi yang gesit dan mudah mengamuk. Tapi, Awis selalu punya trik jitu menanganinya. Pengalaman menjadi tukang jagal menjadi kuncinya.

“Ya kadang susah kadang gampang, tergantung sapinya. Kan sapi ada yang gesit ada juga yang jinak. Kayak sapi limosin aja yang badannya gede kadang juga gesit, tapi juga kadang ada aja yang jinak,” ungkapnya.

Memendam Rasa Iba

Penyembelihan sapi dan kambing kerap bernuansa mengerikan. Suara rintihan sapi, bunyi desis urat leher yang terputus, kepala yang menggelantung, cipratan darah di lantai dan wajah, serta bau anyir jadi bagian dari adegan itu.

Segala akibat itu tak menggetarkan hati dan niat Awis sebagai penjagal. Dia hanya perlu menyembunyikan rasa itu saat bekerja.

Tapi, terkadang, Awis juga kerap merasa ngeri dan kasihan terhadap hewan yang dia sembelih. “Ya iba, kasihan sih ada ya rasa kaya gitu, tapi karena ini pekerjaan yang harus dilakuin, ya risiko yang harus dihadapi emang begitu,” jelasnya.

Selain menyembelih dan menguliti, tugas Awis lain yaitu harus memotong kaki sapi dan tulang belakang sapi. Dengan kapaknya, Awis mengayun dan menghantam putih tulang sapi hingga terbelah.

Awis mengungkapkan, keahliannya sebagai tukang jagal hewan didapat berkat pelatihan yang pernah dia ikuti sebelumnya. Pada 2012, Awis pernah mengikuti pelatihan penyembelihan dan pemrosesan sapi di IPB University.

“Dulu waktu 2012 saya ikut training di IPB, Bogor. Sekarang alhamdulillah sudah terbiasa sama pekerjaan gini,” kata Awis.

Idul Adha hanya sekali dalam setahun. Di luar hari besar itu, Awis tetap berjibaku dengan darah hewan.

Awis tetap bekerja menjadi tukang jagal sapi di RPH dan menerima jasa jagal hewan panggilan.

Tetapi, ada yang berbeda soal pendapatan. Pada momen lebaran Idul Adha, dia mengaku ada peningkatan pendapatan hingga 20 persen dibandingkan penyembelihan sapi pada hari-hari biasa.

“Kalo lebaran gini emang ada peningkatan pendapatan sih, ya lumayan lah kira-kira 20 persen lebih banyak,” ucap Awis tersenyum.

 

Video Terkait