Gubes Unair Temukan Metode Baru untuk Deteksi Kebuntingan Dini Sapi

Ilustrasi peternak sapi. (Foto: Sariagri/Arief L)

Editor: M Kautsar - Senin, 12 Juli 2021 | 16:00 WIB

SariAgri - Saat ini pertumbuhan populasi sapi nasional belum mampu mengimbangi kenaikan konsumsi masyarakat. Sehingga untuk menutup kebutuhan dalam negeri masih sangat bergantung impor.

Oleh karena itu, diperlukan manajemen pemeliharaan yang efisien demi mendorong swasembada daging untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Berangkat dari persoalan tersebut, guru besar (gubes) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Tita Damayanti Lestari, menyoroti reproduksi efektif bagi sapi melalui deteksi kebuntingan dini.

Guna mencapai tujuan tersebut Tita telah melakukan penelitian Pregnancy Associated Glycoprotein (PAG) sebagai Marker dalam Mendukung Peningkatan Populasi Bibit Unggul Sapi Melalui Deteksi Kebuntingan Dini.

“Efisiensi reproduksi merupakan faktor penting agar hewan ternak dapat mencapai produksi yang optimal. Umumnya, peremajaan ternak sapi perah dilakukan peternak dengan menjual ternak-ternak yang sudah tua. Sapi dara yang dibeli dalam keadaan bunting akan mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus dapat menjamin ternaknya tidak majir,” ujar Tita, Senin (12/7).

Tita menjelaskan metode deteksi secara imunologis ini melibatkan protein spesifik hasil produksi blastosis pada awal implantasi sehingga bisa menjadi dasar penentuan kebuntingan dini.

Dia menegaskan deteksi protein spesifik dalam serum darah sapi betina setelah perkawinan atau inseminasi buatan (IB) dapat dijadikan indikator kebuntingan menjelang implantasi embrio.

“Protein itu dikenal sebagai pregnancy associated substances atau protein spesifik yang mampu memberikan sinyal pada sistem maternal tentang adanya konsepsi. Salah satu protein tersebut adalah pregnancy-associated glycoprotein (PAG),“ ucap dia.

Lebih rinci, Tita mengatakan PAG adalah substansi molekul glikoprotein yang diproduksi sel-sel trophoblast blastocyst menjelang implantasi dan bersifat imunogenik. Setelah diinjeksikan pada hewan coba, PAG dapat menstimulasi terbentuknya antibodi terhadap protein itu sendiri. 

“Anti-PAG itulah, lanjutnya, yang digunakan sebagai penciri dalam deteksi kebuntingan dini pada sapi. Terdeteksinya PAG dalam sistem darah maternal bisa menjadi indikator kebuntingan kurang dari satu siklus berahi,” ujar dia.

Video Terkait