Ratusan Babi Hutan Mati Misterius di Kaltara, Virus Baru?

Ilustrasi Babi Hutan. (Pixabay)

Editor: M Kautsar - Minggu, 13 Juni 2021 | 06:00 WIB

SariAgri - Ratusan babi hutan ditemukan mati mendadak di Kalimantan Utara. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kaltara Wahyuni Nuzband menduga babi hutan tersebut mati karena terjangkit penyakit Virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika.

"Ada tiga lokasi saat ini yang terdampak yaitu Krayan di Kabupaten Nunukan, Mentarang Hulu di Kabupaten Malinau dan Peso di Kabupaten Bulungan," kata Kepala Wahyuni Nuzband saat dihubungi dari Tarakan, Sabtu.

Dilaporkan babi hutan yang mati di Kecamatan Peso sebanyak 40 ekor, Kecamatan Mentarang Hulu sebanyak 65 ekor dan Kecamatan Krayan sebanyak 24 ekor.

Saat ini DPKP sedang mengawasi tiga kabupaten yang banyak ditemukan babi hutan maupun babi ternak yang mati.

Dia mengatakan pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi ke kabupaten/kota kepada dinas terkait dan diharap dinas tersebut menyampaikan ke masyarakat.

"Sebetulnya kejadian babi hutan yang mati mendadak sudah pernah terjadi beberapa bulan lalu dan sudah disosialisasikan," kata Wahyuni.

DPKP juga sudah mengambil sampel babi hutan di daerah Krayan dan Minggu depan rencananya ambil sampel dan sosialisasi di Peso, kemudian sosialisasi di Kabupaten Malinau.

Karantina Pertanian Tarakan saat ini juga masih menunggu hasil laboratorium Balai Veteivener (Bvet) di Banjarbaru terkait banyaknya babi hutan yang mati mendadak.

"Sampel yang dikirim itu, kemungkinan minggu depan sudah dapat hasilnya yang diambil dari Krayan," katanya.

Sementara beberapa bulan lalu, DPKP mengirim sampel babi hutan yang mati hasilnya ada ditemukan adanya virus ASF ada juga yang tidak.

Canggih, Ilmuwan Buat Kacamata Pintar Pengukur Bobot Babi di Peternakan

SariAgri - Babi merupakan salah satu hewan ternak berukuran cukup besar. Menggiring babi di peternakan ke timbangan bukan pekerjaan mudah, bahkan bisa membutuhkan kerja keras dua hingga tiga orang.

Untuk memudahkan pekerjaan menimbang bobot babi yang akan dijual dari peternakan, Fakultas Teknik University of Miyazaki Jepang mengembangkan kacamata canggih. Dilengkapi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan teknologi augmented reality, kacamata ini dapat digunakan untuk mengukur bobot babi secara visual.

Perancang kacamata canggih ini adalah Kikuhito Kawasue seorang profesor di Fakultas Teknik University of Miyazaki. Kawasue mengatakan dengan menggunakan kacamata buatannya memungkinkan perkiraan visual sederhana dari berat babi yang akan mempengaruhi harga jualnya.

Menurut dia, jika seekor babi memiliki berat 115 kilogram saat pengiriman, kemungkinan besar babi hewan ternak itu akan mendapatkan harga tertinggi. Namun, karena babi mengonsumsi sekitar 3 kilogram pakan setiap hari, dan minum air sekitar 15 liter per hari tidak menutup kemungkinan terjadi penyimpangan signifikan dari bobot sebenarnya.

Meski demikian, kacamata pintar yang dilengkapi kamera 3 dimensi (3D) untuk melakukan pengukuran dapat menampilkan data numerik.

Untuk menghitung potensi bobot karkas babi, data bentuk tubuh babi yang dikumpulkan kamera 3D dapat dibandingkan dengan model standar. Kemudian perkiraan berat tubuh babi muncul di kacamata pintar secara real time.

Menurut hasil uji coba, margin of error (penyimpangan) hasil perhitungan berat badan babi dengan kacamata pintar hanya dalam persentase satu digit.

Kawasue mengklaim saat ini belum ada peralatan seperti yang diciptakannya di dunia. Saat ini aplikasi paten internasional dari hasil penemuannya itu sedang dalam proses.

Baca Juga: Ratusan Babi Hutan Mati Misterius di Kaltara, Virus Baru?
Cegah Penyakit Babi Afrika, Balai Pertanian Perketat Pengawasan

Dia berharap perangkat canggih temuannya dapat meringankan beban kerja petani dan peternak dan meningkatkan pendapatan mereka.

“Saya ingin menjadikan produk ini komersial setidaknya dalam dua tahun. Saya akan meneliti bagaimana cara meningkatkan akurasi perangkat ini,” kata Kawasue dikutip The Mainichi.

----

Video Terkait