Ancaman Impor Ayam Brasil, Industri Unggas Lokal Harus Lebih Efisien

Ilustrasi - Peternakan ayam (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 30 April 2021 | 16:00 WIB

SariAgri - Masuknya ayam impor dari Brasil di Indonesia tinggal menunggu waktu saja. Hal ini menyusul kekalahan banding dalam gugatan Brasil di World Trade Organization (WTO) yang mengharuskan Indonesia membuka akses untuk masuknya produk ayam Brasil.

Direktur Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Syailendra mengatakan, industri unggas dalam negeri harus bisa lebih efisien dan kompetitif dalam menghadapi ancaman ayam impor dari Brasil. Semua pihak harus bekerja sama membangun sistem rantai perdagangan ayam yang lebih efisien mulai dari bahan baku pakan hingga ayam di pasar.

“Untuk persiapan perang yang lebih besar, saya sudah sampaikan walau terkejut-kejut. Kalau kita tidak bisa efisien dan bahan baku pakan juga tidak bisa kita pastikan. Ekstremnya itu impor saja pakan kalau produksi lebih mahal, tapi dampak ke petani dan industri pakan seperti apa nanti? Kalau cari yang mudah ya begitu saja cari yang termurah, tapi kan tidak gitu,” ujarnya dalam webinar beberapa waktu lalu.

Menurut Kepala Biro Hubungan Masyarakat (Kabiro Humas) Kemendag, Ari Satria, meski akses impor ayam Brasil dibuka, tidak serta merta ayam dari negara itu akan masuk dan membanjiri pasar dalam negeri secara langsung.

“Kita tahu kasarnya dari sisi Government to Government (G2G) kita Kalah. Namun ketika akses sudah dibuka, maka bukan serta merta ayam-ayam dari Brasil langsung berdatangan masuk ke Indonesia, karena proses selanjutnya adalah business to businessnya (B2B),” katanya saat dihubungi SariAgri.id, Jumat (30/4/2021).

Dikatakan Ari, ayam termasuk komoditas yang secara global bebas diperdagangkan, sama halnya dengan daging sapi, kedelai, kopi, teh dan lainnya.

“Ketika akses impor ayam sudah dibuka. Eksportir Brasil juga harus mencari dulu importir Indonesia yang mau jual ayam dari sana. Terus harus ada negosiasi juga antar keduanya. Importir Indonesia juga pasti akan hitung-hitungan juga apakah harganya masuk atau tidak,“ jelasnya.

Dia mengatakan, sebenarnya pemerintah sudah melakukan negosiasi dan diplomasi sejak tahun 2014. Namun karena ayam termasuk komoditas terbuka yang bebas diperdagangkan dan tidak ada larangannya sehingga sulit bagi Indonesia untuk mencegah putusan WTO yang memenangkan Brasil dalam sengketa.

“Kemungkinan besar, Indonesia harus membuka aksesnya karena dimanapun ayam itu komoditas bebas dan ini salah satu konsekuensi dari globalisasi,” ungkapnya.

Baca Juga: Ancaman Impor Ayam Brasil, Industri Unggas Lokal Harus Lebih Efisien
Kenaikan Harga Jagung Pakan karena Minimnya Pasokan Dalam Negeri

Secara pribadi, Ari meyakini ketika produksi ayam dalam negeri bisa mencukupi permintaan dengan harga sesuai dengan kemampuan konsumen, ayam impor dari Brasil sebenarnya tidak dibutuhkan.

“Kalau saya pribadi, secara logika kalau dari sisi suplai bisa mencukupi kebutuhan sendiri dan harga juga sudah sesuai dengan kemampuan konsumen di sini, sebenarnya tidak ada alasan untuk kita impor meskipun akses impornya sudah dibuka. Maka seperti yang dikatakan Dirjen PDN kemarin, perlu adanya efisiensi pada industri unggas dalam negeri,” pungkasnya.

Video Terkait