Berbasis Korporasi, Peternak Itik Food Estate Mulai Nikmati Hasil

Lahan di kawasan food estate Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (Kalteng). (SariAgri/Arif Ferdianto)

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Kamis, 8 April 2021 | 14:15 WIB

SariAgri - Kelompok penerima manfaat di kawasan Food Estate Kalimantan Tengah (Kalteng) saat ini sudah menikmati hasil dari budidaya ternak itik. Rata-rata produksi telur sudah mencapai 200 sampai 370 butir per hari dari 500 ekor induk dengan umur berkisar tujuh sampai delapan bulan.

Pemerintah memang sedang giat mengembangkan kawasan Food Estate Kalteng dengan mengintegrasikan komoditas utama padi dan jagung dengan komoditas hortikultura, perkebunan, peternakan, sebagai pendukung di dalam satu kawasan. Saat ini untuk peternakan, komoditas yang mulai dikembangkan adalah itik.

Seperti halnya pengembangan komoditas lain, peternakan itik di kawasan Food Estate pun dikembangkan berbasis korporasi, sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi peternak.

“Nilai tambah bisa didapatkan dengan mengintegrasikan usaha mulai dari hulu sampai hilir, yaitu dari pembibitan, budidaya, pascapanen, dan pemasaran,” ungkap Nasrullah dalam keterangannya, Kamis (8/4).

Menurut Nasrullah, analisis usaha dari budidaya itik petelur memang menjanjikan. Setiap kelompok penerima manfaat dapat memperoleh keuntungan per bulan dari budidaya itik petelur sebesar Rp2.240.000 dari penjualan telur segar.

"Keuntungan yang diterima oleh kelompok bisa meningkat jadi Rp8.800.000 jika telur segar diolah lebih lanjut menjadi telur asin. Kelompok yang dibimbing oleh penyuluh dan petugas dinas setempat, sudah memulai pembuatan telur asin untuk meningkatkan nilai jual telur itik," jelas Nasrullah.

Selain pengolahan, Nasrullah menuturkan kemajuan juga terlihat dalam hal pemasaran. Para peternak sudah bisa memanfaatkan penjualan online dan sistem COD (Cash On Delivery) langsung ke konsumen dengan difasilitasi oleh dinas setempat. Kelompok secara mandiri bisa membeli pakan itik sendiri dari hasil penjualan telur dan telur asin setelah bantuan pakan habis diberikan.

"Semakin mandiri kelompok penerima manfaat dalam mengelola usaha ternak itik mulai dari hulu sampai hilir menjadi salah satu indikator keberhasilan peningkatan usaha peternakan," tutur Nasrullah.

Nasrullah menjelaskan, penerima manfaat pengembangan itik di Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas dialokasikan dalam tiga klaster di 15 kelompok ternak, dengan jumlah total ternak yang telah dikelola 7.650 ekor itik yang terdiri dari 7.500 ekor itik betina dan 150 ekor itik jantan.

“Itik yang diterima setiap kelompok penerima manfaat sejumlah 510 ekor, yaitu 500 ekor betina dan 10 ekor jantan, dengan kriteria itik lokal dan/atau persilangan jenis petelur, umur siap produksi minimal umur empat bulan, telah divaksin avian influenza, dan memiliki sertifikat veteriner/Surat Keterangan Kesehatan Hewan,” sebutnya.

Kementan juga memberikan bantuan pakan setiap kelompok sebanyak 6.100 kilogram (kg) yang terdiri dari  pakan itik grower (17-20 minggu) sebanyak 1.950 kg dan pakan itik layer (21-28 minggu) sebanyak 4.150 kg. Pakan yang diberikan berupa pakan komplit pabrikan untuk itik petelur sesuai SNI dan memiliki Nomor Pendaftaran Pakan (NPP).

Selain itu, Kementan memberikan paket bantuan bahan pembuatan kandang kepada setiap kelompok untuk dibuatkan satu unit kandang. Pembuatan kandang harus memenuhi beberapa ketentuan, seperti cukup untuk menampung semua itik dewasa, berbentuk panggung, memiliki alas, dinding, dan atap, serta sirkulasi udara yang baik.

Video Terkait



Baca Juga: Berbasis Korporasi, Peternak Itik Food Estate Mulai Nikmati Hasil
Tips Sederhana Merawat Kucing Kesayangan