Desa Sokawera Dijuluki Kampung Lalat Meski Bersih

Kandang Lalat BSF kini banyak ditemui di Desa Sokawera (Sariagri/Pena Zun)

Editor: Andry - Senin, 22 Maret 2021 | 15:40 WIB

SariAgri -  Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah kini biasa disebut sebagai Kampung Lalat. Bukan karena kotor atau jorok  sehingga  banyak lalatnya , tapi warga sengaja memelihara lalat untuk dibudidayakan.  

Lalat yang dipelihara warga bukan lalat biasa tetapi lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF) dengan nama latin Hermetia illucens.

Tak heran jika sekarang kita memasuki desa Sokawera , tampak di bagian teras sejumlah rumah dusun setempat, ada sebuah benda yang unik. Bagian atas dan bawah berbentuk lingkaran dengan diameter 60 centimeter (cm) yang terbuat dari tampah atau anyaman bambu, sedangkan penutupnya adalah kelambu dengan panjang 150 cm.

Itulah kandang dari BSF, dimana dari 800 jenis lalat yang ada di muka bumi, BSF itulah yang merupakan jenis paling beda,  tidak bersifat patogen karena tidak membawa agen penyakit.

Nasihin , warga yang pertama membudidayakan BSF , awalnya dicibir oleh warga sekitar, namun kiprahnya sejak tahun 2017 ini akhirnya  disambut warga. Dengan budidaya lalat BSF, warga memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan telur BSF maupun larva atau biasa disebut maggot BSF. Atas kegigihannya, Nasihin dan warga kini sudah memiliki 300-an kandang. Sudah ada 30 rumah yang membudidayakan BSF.

" Tidak hanya bisa meningkatkan pendapatan warga, tetapi juga sebagai salah satu solusi untuk menangani sampah," ujar Nasihin.

Budidaya BSF sendiri tidak sulit. Jika sudah jadi lalat, maka akan memanen telurnya. Meski baru sebulan sudah bisa memanen telurnya. Harganya lumayan, Rp10 ribu per 1gram (gr).

Warga juga telah membentuk kelompok pembudidaya BSF yang masuk dalam wadah Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi). Selain membina warga, kelompok juga memiliki kandang yang dikelola oleh warga.

Menurut Nasihin yang kini menjadi Kordinator Saburmusi, harga jual telur dari pembudidaya pribadi Rp10 ribu per gram, begitu juga dengan kelompok yang menjualnya. Namun, kalau panen dari kandang kelompok, harga Rp10 ribu akan dibagi-bagi. Untuk kelompok, nantinya hanya menerima 50%, sedangkan 30% untuk alokasi kuliah bagi warga tidak mampu dan 20% lainnya untuk mitra pembudidaya.

Pada budidaya BSF tidak hanya telur saja yang dipanen, melainkan juga maggot atau larva sebelum menjadi lalat tentara dewasa. Untuk harga maggot yang hidup Rp7 ribu per kg di tingkat pembudidaya. Sedangkan kalau diproses dengan mengeringkan atau masuk dalam oven, harga larva kering mencapai Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per bungkus isi 100 gram. 

Kasman  salah seorang warga yang ikut budidaya BSF menuturkan , dari budidaya tersebut sangat membantu ekonomi warga. " Kalau satu kandang dapat menghasilkan 50 gram per hari, dengan harga telur Rp10 ribu, berarti dapat menghasilkan Rp500 ribu. Belum lagi, larvanya. Bisa sampai 30 kg, " tuturnya.

Larva BSF Yang diternak warga sedang mengurai   <a target='_BLANK' href='//sariagri.id/article/topic/37742/Sampah'>sampah</a>  (Sariagri/ Pena Zun)
Larva BSF Yang diternak warga sedang mengurai sampah (Sariagri/ Pena Zun)
Baca Juga: Desa Sokawera Dijuluki Kampung Lalat Meski Bersih
Mengenal Lalat Tentara Hitam Yang Punya Nilai Ekonomi

Siklus hidup BSF secara total hanya sekitar 45 hari, mulai dari telur sampai ke lalat dewasa. Seekor lalat betina  menghasilkan 500-900 butir telur. Sedangkan untuk mendapatkan 1 gram telur, membutuhkan setidaknya 14-30 BSF. Untuk 1 gram telur, akan mampu menghasilkan 3-4 kg maggot atau larva. Fase paling lama adalah larva, sekitar 18 hari. Pada fase inilah, larva mengurai bahan-bahan organik, sehingga mampu  mengurangi bau.  Pada saat fase sebanyak 1 kg larva BSF akan mampu mengurai 1 kg sampah organik 

Nasihin berharap ke depannya, semoga ada teknologi pengolahan untuk memproduksi pelet pakan ikan dari bahan baku larva BSF. Dengan demikian akan semakin mengoptimalkan budidaya BSF tersebut.

Video Terkait