Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian, Warga Kampung Sawah Perbanyak Domba

Domba milik warga kampung Sawah, Desa Cikarageman, Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. (SariAgri/Dwi Rachmawati)

Penulis: Arif Sodhiq, Editor: Redaksi Sariagri - Jumat, 8 Januari 2021 | 11:30 WIB

SariAgri - Warga kampung Sawah, Desa Cikarageman, Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi, Jawa Barat masih banyak yang memelihara domba sebagai hewan ternak. Warga mengembalakan domba pada pagi dan sore hari di tanah berumput di sekitar kampung.

Saefudin (50) mengaku sudah lebih dari 10 tahun memelihara domba karena lebih mudah pakannya dibandingkan dengan kambing.

“Kalau domba gampang dikasih makannya, domba lebih suka makan rumput. Kalau kambing lebih suka makan dedaunan jadi khawatir bisa merusak tanaman orang di kampung,” ujarnya saat ditemui SariAgri.id, Kamis (7/1/2021).

Setiap hari dia bersama warga lainnya menggembalakan domba di hamparan tanah berumput bekas lahan garapan warga.

“Dulunya saya tani di lahan ini, tanam kacang, rempah, tapi karena lahan garapan kami sudah diambil alih sama perusahaan dan masih terbengkalai jadi padang rumput begini, jadi kami bawa domba-domba semuanya biar makan rumput di sini,” ungkapnya.

Berita Peternakan - Baca Juga: Kenali Sebelum Terlambat, Ini 5 Penyakit Ayam Petelur
Optimalisasi Manfaat Susu Unta Terus Dilakukan

Sejak lahan garapan warga diambil alih perusahaan, dia memilih memperbanyak jumlah domba. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan harian, Saefudin saat ini hanya mengandalkan penghasilan dari memetik daun melinjo dan menjadi kuli petik buah rambutan.

Menurut Saefudin, domba yang dipeliharanya adalah tabungan jika da kebutuhan mendadak. Biasanya dombanya akan dibeli tengkulak dengan harga sesuai kualitas dan bobotnya.

“Ya kalau di tengkulak enak jualnya mereka yang cari ke rumah, terus biasanya saya jual domba setahun bisa dua kali harganya berkisar 2 hingga 4 juta per ekor tergantung kondisi dombanya,” jelasnya.

Sementara Wawan (45) warga Kampung Sawah lainnya yang juga memelihara domba mengaku sebelumnya dirinya seorang petani yang menanam padi di lahan tersebut.

“Dulu mah ramai orang pada tani di sini termasuk saya juga. Tapi lahannya udah nggak bisa kami garap sekarang. Jadi kami manfaatkan rumputnya untuk makan domba,” ungkapnya.

Menurut dia kesulitan dalam memelihara domba saat musim kemarau di mana rumput atau gulma ikut kering dan semakin jarang.

“Kalau musim kemarau kami tidak gembalakan domba karena rumput banyak yang kering, kalau udah gitu ya mau tidak mau harus ngarit cari rumput yang masih tersisa,” jelasnya.

Berdasarkan pengakuan Wawan, Saefudin, dan beberapa warga lainnya, hingga saat ini belum pernah ada penyuluhan ternak domba dari dinas terkait.

“Kita aja nggak tahu memang ada ya pemerintahan yang ngurusin ginian, kalo domba sakit biasanya diare paling sering menyerang domba-domba di sini ya saya sih biasanya kasih obat yang biasa orang minum aja beli di warung kadang sembuh dombanya,” jelasnya.

Baca Juga: Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian, Warga Kampung Sawah Perbanyak Domba
Ini Empat Jenis Kopi Paling Populer Dunia

Warga berharap agar tidak ada lagi alih fungsi lahan pefrtanian kerana merupakan sumber mata pencaharian mereka. Sementara hamparan tanah berumput menjadi sumber pakan ternak mereka.

“Jangan sampai nanti tanah makin hari makin habis dibuat perumahan dan pabrik, nanti makin susah hidup kami mau kerja apa," pungkasnya.

Berita Peternakan : Manfaat Ampas Kopi Bagi Tanaman

Video Terkait