Peneliti Eksperimen Pakan Ternak dengan Sistem Hidroponik dan Aquaponik

Proses penanaman pakan ternak dengan sistem hidroponik. (Foto: Sariagri/Arief L)

Penulis: M Kautsar, Editor: Redaksi Sariagri - Senin, 4 Januari 2021 | 16:16 WIB

SariAgri - Bahan pakan pokok ternak ruminansia penting untuk mengoptimalkan fungsi rumen (lambung). Akan tetapi ketersediaan hijauan semakin menipis akibat keterbatasan lahan pertanian yang telah banyak beralih fungsi.

Salah satu upaya mengatasinya adalah menggunakan teknik budidaya secara hidroponik yang dapat dilakukan menggunakan biji tanaman. Serta menerapkan teknik tanam aquaponik, yakni mengkombinasikan akuakultur atau pemeliharaan hewan air dengan hidroponik, atau yang lebih dikenal sebagai sistem budidaya tumbuhan dengan media tanam air.

Menurut Dosen Fakultas peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) Malang Jawa Timur, Hermanto, kedua teknik tersebut bukan hanya mengatasi keterbatasan lahan tetapi juga dapat menyelesaikan masalah kesuburan lahan, ketersediaan air, musim serta tenaga kerja.

“Sebagai pakan ternak, jagung tidak mengandung zat anti nutrisi baik mulai dari biji sampai pada komponen tanamannya. Hampir semua fase pertumbuhan tanaman jagung dari kecambah sampai jerami sudah dieksplorasi untuk digunakan sebagai pakan ternak,” kata Hermanto kepada SariAgri, Senin (4/1).

Untuk mewujudkan hijauan jagung sebagai pakan ternak dengan teknik hidroponik dan aquaponik, Hermanto mengaku melakukan penelitian di rumah kaca Laboratorium Lapang Sumber Sekar dan Laboratorium Nutrisi dan makanan Ternak Fapet UB.

Berita Peternakan : Pria Viral Yang Tidur di Kandang Ayam

Dia melakukan tiga tahapan uji coba, pertama menguji kemampuan produksi jagung pada lima media larutan, antara lain air murni, larutan nutrisi hidroponik 1000 ppm, 2000 ppm, air kolam ikan nila dan ikan lele dengan tingkat kerapatan biji 100; 150 dan 200 biji per nampan 25×10 centimeter.

Lalu pada percobaan kedua, menguji dua varitas jagung Bisi 18 dan NK Perkasa dengan kepadatan 200 biji per nampan yang dibudidayakan dengan aliran larutan (resirkulasi) hidroponik 1000 ppm, air kolam ikan nila dan lele.

Pada tahap akhir dia menganalisis semua biaya yang timbul dari penelitian pertama dan peralatan yang digunakan resirkulasi digunakan untuk menentukan harga pokok produksi.

“Harga pokok produksi yang rendah pada penelitian ini didapat pada perlakuan yang dikategorikan ekonomis, yaitu menggunakan nutrisi air kolam ikan, kepadatan biji per tray (nampan) yang rapat dan dipanen dalam waktu singkat, namun produksinya didominasi oleh bagian akar tanaman," pungkasnya. (Sariagri/Arief L)

Berita Peternakan - Baca Juga : Kini Ada Salon Khusus Ikan Cupang

Salon Ikan Cupang

Video Terkait