Alasan Harus Mengurangi Emisi dari Ternak

Ilustrasi sapi yang sedang mengonsumsi pakan (Foto: Pixabay)

Editor: M Kautsar - Selasa, 18 Agustus 2020 | 19:00 WIB

SariAgri - Ternak ruminansia seperti sapi, domba, kerbau, kambing, rusa, dan unta memiliki perut bagian depan (atau rumen) yang mengandung mikroba yang disebut metanogen. Mikroba ini mampu mencerna bahan tanaman kasar dan menghasilkan metana sebagai produk sampingan pencernaan (enterik). Metana (CH4) ini dilepaskan ke atmosfer saathewan bersendawa, demikian dikutip dari Departemen Perindustrian dan Pengembangan Kawasan Australia Bagian Barat.

Jumlah metana yang dikeluarkan ternak terutama ditentukan jumlah hewan, jenis sistem pencernaan yang mereka miliki, dan jenis serta jumlah pakan yang dikonsumsi. Hewan pemamah biak jadi sumber utama emisi metana peternakan karena menghasilkan metana paling banyak per unit pakan yang dikonsumsi.

Berdasarkan penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor, kegiatan produksi ternak diperkirakan memberikan kontribusi sebesar 12 persen terhadap total emisi rumah kaca di Pulau Jawa.

Sapi potong memberikan emisi gas Rumah Kaca (GRK) tertinggi. Sumbangan emisi metana dari sapi potong juga yang terbesar (63,8 persen) dari total emisi di Pulau Jawa.

Mengutip laman Kementerian Lingkungan Hidup, metana merupakan salah satu jenis GRK penyebab pemanasan global. Gas ini lebih dianggap sebagai polutan daripada sumber energi yang berguna.

Gas metana pada kadar tinggi dapat mengurangi kadar oksigen pada atmosfer bumi. Gas metana dapat menyebabkan penurunan oksigen sampai sekitar 19,5 persen. Pada kadar yang lebih tinggi, gas metana dapat menyebabkan kebakaran dan ledakan apabila bercampur dengan udara.

Dari segi lingkungan, gas metana menjadi penyebab utama pemanasan global sehingga berdampak pada perubahan iklim. Alasannya metana merupakan gas dengan emisi gas rumah kaca 23 kali lebih ganas dari karbondioksida (CO2).

Pemanasan global inilah yang membuat suhu di kutub utara dan kutub selatan menjadi semakin panas. Ketika es di kedua kutub tersebut mencair, maka metana beku yang tersimpan dalam lapisan es itu ikut terlepaskan ke atmosfer.

Baca Juga: Alasan Harus Mengurangi Emisi dari Ternak
Rumput Laut Ternyata Bisa Kurangi Sendawa pada Sapi

Para ilmuwan memperkirakan bahwa Antartika menyimpan kurang lebih 400 miliar ton metana beku, dan gas ini dilepaskan sedikit demi sedikit ke atmosfer seiring dengan semakin banyaknya bagian-bagian es di antartika yang runtuh. Jumlah metana ini belum termasuk metana beku yang tersimpan di dasar laut yang juga terancam mencair.

Sekali terpicu, siklus ini akan menghasilkan pemanasan global yang sangat parah sehingga mungkin dapat mematikan sebagian besar mahluk hidup yang ada di darat maupun laut. (Sariagri.id/Marthin)

Video Terkait