Jelang Idul Adha, Waspadai Cacing Hati pada Hewan Kurban

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Kediri, Apriyanti Dwiwin Dyastuti (Arief L/ SariAgri Jawa Timur)

Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 3 Juli 2020 | 13:33 WIB

SariAgri - Dinas ketahanan pangan dan peternakan Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mengingatkan untuk mewaspadai hewan kurban yang akan disembelih saat Idul Adha. Hal itu karena tidak menutup kemungkinan, beberapa hewan kurban ada yang sakit dan mengidap cacing hati.

“Bisa saja diantara ratusan bahkan ribuan ternak yang dijual pedagang ada yang sakit seperti kurus dan pucat serta tidak lincah. Hewan kurban dengan ciri demikian sebaiknya dihindari untuk dibeli karena tidak menutup kemungkinan ternak tersebut mengidap cacing hati,“ ujar Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Ketahanan pangan dan Peternakan Kabupaten Kediri, Apriyanti Dwiwin Dyastuti.

Apriyanti menyebutkan, tahun lalu saat penyembelihan hewan kurban, ditemukan ada yang mengidap cacing hati. Jika cacing dalam hati hewan yang disembelih dikonsumsi manusia akan berbahaya.

“Sebetulnya jika dimasak dengan benar hingga matang pada suhu panas tinggi, hati yang di dalamnya terdapat cacing masih boleh dikonsumsi. Namun demikian, sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi jika ditemukan hati ternak kurban dalam kondisi tidak segar karena terdapat cacing,“ katanya kepada SariAgri.id.

Apriyanti mengatakan pakan hijau ternak diduga menjadi faktor penyebab cacing hati berkembang biak. Pakan yang telah terkontaminasi telur cacing hati dimakan hewan kurban, dan cacing hati berkembang di dalamnya.

Cacing Fasciola (cacing hati) yang menginfeksi hewan ternak terdiri dari dua spesies yaitu Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica. Fasciola hepatica biasa menyerang negara empat musim atau subtropis seperti negara-negara di wilayah Amerika Selatan, Amerika Utara, Eropa, Afrika Selatan, Rusia, Australia, dan Selandia Baru.

Sedangkan Fasciola gigantica menyerang wilayah beriklim tropis seperti India, Indonesia, Jepang, Filipina, Malaysia, dan Kamboja.

Cacing hati menular pada ternak melalui siklus hidup yang berpindah. Cacing Fasciola dewasa bertahan hidup di dalam hati ternak antara 1-3 tahun. Telur cacing akan keluar dari tubuh ternak bersama feses. Pada lingkungan lembab, telur tersebut dapat bertahan antara 2-3 bulan.

Telur Fasciola hepatica menetas dalam 12 hari pada suhu 26°C, sementara telur Fasciola gigantica menetas dalam 14-17 hari pada suhu 28°C. Penetasan yang umumnya terjadi pada siang hari itu mengeluarkan mirasidium

Mirasidium memiliki rambut getar yang sangat aktif berenang di dalam air. Ia akan mencari induk semang yang sesuai, yaitu siput. Setelah mirasidium menemukan siput, rambut getarnya akan terlepas dan mirasidium menembus masuk ke tubuh siput. Dalam waktu 24 jam, mirasidium berubah menjadi sporosis. Delapan hari kemudian, sporosis tersebut akan berkembang menjadi redia.

Selanjutnya, redia akan menghasilkan serkaria dan keluar dari tubuh siput. Serkaria dapat berenang saat berada di luar tubuh siput, kemudian menempel pada benda di dalam air. Termasuk di antaranya rumput, jerami, sayuran, atau tumbuhan air lainnya. Hewan ternak akan terinfeksi ketika memakan tumbuhan atau meminum air yang terkontaminasi serkaria.

Di dalam tubuh ternak, serkaria menjadi cacing muda.  Dampak infeksi  ini cukup buruk bagi ternak, karena bisa membuat pertumbuhannya terhambat, kurus, produktivitas ternak menurun, bahkan menyebabkan kematian.

Baca Juga: Jelang Idul Adha, Waspadai Cacing Hati pada Hewan Kurban
Kenali Sebelum Terlambat, Ini 5 Penyakit Ayam Petelur

“Karena itu, kami mengimbau agar tidak membagikan organ hewan kurban yang kedapatan cacing dengan ciri-ciri bercak putih, dipegang agak keras dan berwarna pucat pada organ hati, “ urainya.

Apriyanti menyebutkan organ hati hewan kurban yang normal memiliki tampilan yang mengkilap bersih, dipegang lunak dan berwarna merah hati yang merata. (Arief L/ SariAgri Jawa Timur)

Video Terkait