Dinilai Tak Efisien, Pria Ini Ingin Memodernisasi Peternakan di Indonesia

Ilustrasi Peternakan Ayam Kampung (Istimewa)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 9 Januari 2023 | 12:30 WIB

Arief Witjaksono masih mengenang perasaan antusias ketika beberapa temannya mengajaknya bergabung di bisnis peternakan ayam pada tahun 2018 lalu.

Teman-temannya mengatakan ayam merupakan sumber protein yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia. Miliki jutaan pelanggan potensial, prospek pertumbuhan industri satu ini masih sangat cerah.

Itu tidak perlu dipikirkan. Yang pasti, saya akan menghasilkan uang,pikir pria berusia 38 tahun tersebut saat itu.

Namun, usaha itu berakhir dengan bencana. Terlepas dari upaya terbaik mereka, banyak ayam mati dan peternakan yang terletak di pinggiran barat Jakarta itu merugi.

Witjaksono dengan cepat menyadari bahwa peternakannya – dan banyak peternakan serupa lainnya di Indonesia – bergantung pada pekerja yang terbiasa melakukan hal-hal dengan cara tradisional. Mereka menggunakan metode pemeliharaan unggas yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dengan sedikit dasar ilmiah dalam pengoperasiannya.

Sebagian besar peternakan ayam di Indonesia tidak memiliki termometer atau pengontrol kipas untuk memastikan ayam dipelihara pada suhu optimal. Pekerja juga cenderung memberi makan ayam dengan interval yang tidak teratur, tergantung pada ketersediaan dan suasana hati mereka.

“Peternakan sangat tidak efisien,” kata Witjaksono kepada CNA. Dia menambahkan bahwa sejak saat itu, dia memutuskan untuk mencurahkan upayanya untuk memodernisasi peternakan ayam di Indonesia.

Witjaksono, yang saat itu bekerja untuk bisnis kelapa sawit keluarganya, kemudian ikut mendirikan sebuah start-up bernama Pitik pada Juni 2021. Tujuan start-up itu adalah untuk membekali para peternak ayam dengan teknologi dan pengetahuan untuk membantu menjalankan bisnis dengan lebih efisien.

Saat ini, Pitik yang berarti ayam dalam bahasa Jawa, bekerja sama dengan lebih dari 500 peternakan ayam di seluruh Indonesia. Masing-masing peternakan dilengkapi dengan sensor, feed hopper, pemanas, dan kipas yang dapat dikendalikan dari jarak jauh menggunakan smartphone.

CEO Pitik menjelaskan bahwa teknologi tersebut memungkinkan angka kematian ayam turun. Pada saat yang sama, rasio konversi pakan – proporsi antara bobot ayam dan jumlah pakan yang dikonsumsi – meningkat secara signifikan. Tim Pitik juga memudahkan peternak untuk meningkatkan usahanya.

Sebelum ada Pitik, kami kesulitan beternak beberapa ratus ekor ayam saja, karena semuanya kami lakukan secara manual dengan cara yang sederhana. Tapi dengan bantuan teknologi, mudah bagi kami untuk beternak 35.000 bahkan 40.000 ekor ayam,” kata salah satu pengguna Pitik, Syuaeb.

Pitik menyewakan peralatannya kepada para peternak. Hal ini juga memungkinkan peternak untuk meminjam perangkat secara gratis jika mereka menjual ayam hidup ke Pitik dengan harga grosir.

Witjaksono mengatakan perusahaannya semakin mudah meyakinkan pembudidaya untuk bergabung dibandingkan saat dulu.

Smartphone menjadi jauh lebih murah. Sekarang semua orang menggunakan aplikasi di ponsel mereka, terutama generasi muda. Itu adalah tipe orang yang kami targetkan pada awalnya. Mereka lebih reseptif. Mereka lebih berani mencoba hal-hal baru, ujarnya.

Pembatasan pergerakan (lockdown) selama pandemi Covid-19 juga mendorong banyak orang beralih ke teknologi untuk aktivitas sehari-hari. Kurang dari dua tahun setelah perusahaan dimulai, Pitik berada di jalur menuju profitabilitas dan dapat mencapai titik impas awal tahun depan.

Inovasi Terus Menerus

Meskipun ada tanda-tanda keberhasilan, Pitik terus berinovasi. Witjaksono mencatat, industri peternakan ayam Indonesia tertinggal bertahun-tahun dari negara-negara di Eropa dan Amerika Utara.

Angka kematian (ayam) Indonesia sekitar 10 persen. Teknologi kami membantu mengurangi ini hingga 5 persen. (Peternakan di) Eropa dan Amerika sudah (pada) 1 persen,” jelasnya.

Baca Juga: Dinilai Tak Efisien, Pria Ini Ingin Memodernisasi Peternakan di Indonesia
Peternak Milenial Berbagi Kisah Manisnya Bisnis Beternak Ayam Pedaging

Salah satu alasan mengapa Indonesia masih mengejar peternakan modern di luar negeri adalah karena peternak masih perlu memeriksa kandang secara fisik untuk mengetahui apakah ada ayam yang sakit.

Witjaksono memaparkan bahwa Pitik menggunakan Artificial Intelligence/AI untuk mengidentifikasi ayam sakit melalui kamera dan mikrofon, karena ayam mengeluarkan suara mendengkur saat sakit. Teknologi tersebut rencananya akan diluncurkan awal tahun depan.