Importir Daging Keluhkan Neraca Komoditas, Perencanaan Jadi Kacau

Ilustrasi produk daging. (Istimewa)

Editor: Yoyok - Senin, 28 November 2022 | 18:45 WIB

Sariagri - Sistem Nasional Neraca Komoditas (SINAS NK) yang digadang-gadang bakal memudahkan kalangan importir, ternyata menjadikan masalah bagi pengusaha daging. Sebab, di dalam sistem terdapat banyak pembagian kelompok jenis daging saat ingin melakukan impor.

“Sistem tersebut akan mengacaukan perencanaan para pengusaha,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia, Suhandri seperti dikutip sejumah media, Senin (28/11/2022).

Untuk diketahui, di dalam SINAS NK terdapat pembagian berdasarkan 3 kategori. Katogeri satu merupakan jenis daging prime cut, secondary cut, dan fancy. Kemudian, kategori dua untuk keadaan daging beku atau segar. Sedangka kategori ketiga adalah jenis tulang, bertulang atau tidak bertulang.

Suhandri mengungkapkan, kalangan pengusaha swasta saat ini mengalami kendala saat ingin impor daging. Ini terjadi karena terkait dengan pengelompokan jenis daging. 

“Ada tiga kelompok yang kita impor, yaitu prime cut, secondary cut, dan fancy. Kemudian ada pembagian lagi, yaitu daging beku dan daging segar. Lalu dibagi lagi, yaitu daging bertulang dan daging tidak bertulang,” paparnya. 

Suhandri kemudian membandingkan dengan tahun 2017 yang lebih mudah. “Biasanya teman-teman pengusaha daging, waktu 2017, misalnya ingin impor prime cut, apakah itu nanti bertulang atau tidak bertulang akan kita pikirkan berikutnya," katanya.

Menurunya, saat tahun 2017 itu, para pengusaha jauh lebih mudah jika ingin mengajukan impor. Karena cukup menentukan berapa banyak daging yang dibutuhkan dan jenis dagingnya apa saja. Perihal daging yang diinginkan itu bertulang atau tidak bertulang dihitung belakangan.

Suhandri mencontohkan apabila pengusaha membeli 10 ton daging prime cut akan diatur 6 ton itu daging bertulang dan 4 ton tidak bertulang.

Baca Juga: Importir Daging Keluhkan Neraca Komoditas, Perencanaan Jadi Kacau
Solusi Pemerintah Menstabilkan Harga Daging Sapi Agar Tidak Terus Naik

Menurutnya, pengajuan seperti itu jauh lebih fleksibel. Kemudian, saat pengajuan di Kementerian Perdagangan juga tidak disulitkan untuk menulis rincian pesanan impor. Begitu juga di bea cukai.

"Tapi yang menjadi permasalahan sekarang ini, pada saat di SINAS NK, teman-teman kalau mau impor pengaturannya jadi berantakan. Dengan dipecahnya HS code, kemudian dipecahnya lagi per bulan, itu mereka berarti ketemu 12 bulan dengan rincian 3x2 (beku dan segar) sama dengan 6, kemudian di bagi lagi menjadi kategori bertulang dan tidak bertulang. Jadi kurang lebih kita punya 10. Dari 10 itu dipecah lagi masing-masing disuruh 12 bulan. Yang ada, kita akhirnya bikinnya mengarang bebas," papar Suhandri.