Terparah di Eropa, Hampir 48 Juta Hewan Dimusnahkan Akibat Flu Burung

Petugas kesehatan atasi flu burung. (Antara)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 4 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Otoritas kesehatan Eropa mencatat bahwa wabah flu burung kali ini merupakan epidemi paling serius yang pernah terjadi di kawasan itu, seperti diberitakan EuronewsMenurut data terbaru, sebanyak lebih dari 47,7 juta hewan telah dimusnahkan di peternakan Eropa sejak musim gugur lalu akibat virus.

Laporan tersebut diterbitkan pada hari Senin (3/10) oleh Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA), Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), dan Laboratorium Referensi Uni Eropa untuk Flu Burung.

Sekitar 2.500 kasus flu burung tercatat di peternakan unggas pada tahun lalu. Sementara lebih dari 3.500 kasus ditemukan pada unggas liar, dan 190 kasus lainnya terdaftar pada hewan yang dipelihara di tempat lain, seperti di kebun binatang.

ECDC mengatakan kasus flu burung tercatat dari Portugal di Eropa selatan hingga Kepulauan Svalbard di Norwegia di Samudra Arktik. Sebanyak 37 negara mencatat kasus flu burung sejak Oktober 2021 hingga 9 September lalu.

 

Flu burung sebelumnya tercatat selama musim panas, tetapi skala infeksi yang ‘belum pernah terjadi sebelumnya berarti virus saat ini dapat menyebar sepanjang tahun.

ECDC menyebut flu burung terkadang dapat menginfeksi manusia dan menyebabkan penyakit ringan atau sangat parah’. Namun, otoritas kesehatan belum mencatat penularan virus tersebut dari unggas ke manusia dalam beberapa tahun terakhir di Uni Eropa.

Baca Juga: Terparah di Eropa, Hampir 48 Juta Hewan Dimusnahkan Akibat Flu Burung
Kasus Pertama pada Manusia, Anak 4 Tahun di Cina Terinfeksi Flu Burung H3N8

Badan kesehatan Uni Eropa tetap memperingatkan bahwa orang yang bekerja atau secara teratur terpapar burung mungkin berisiko terinfeksi. Lembaga tersebut juga menyerukan perbaikan peraturan kesehatan dan keselamatan.

Kewaspadaan diperlukan untuk mengidentifikasi infeksi virus influenza sedini mungkin, serta untuk menginformasikan penilaian risiko dan tindakan kesehatan masyarakat, kata Direktur ECDC, Andrea Ammon, seperti dikutip Euronews.

Video Terkait