Peternak Sapi Perah di AS Sebut Kebijakan Iklim Justru Ancam Pasokan Pangan

Ilustrasi peternakan sapi perah. (Istimewa)

Editor: Putri - Jumat, 5 Agustus 2022 | 22:30 WIB

Sariagri - Seorang peternak sapi perah di Amerika Serikat (AS) khawatir bahwa kebijakan iklim dapat mengancam kemampuan mereka untuk menyediakan pasokan makanan AS.

Beberapa negara memberlakukan peraturan pada industri pertanian, seperti pembatasan emisi nitrogen, yang memicu reaksi dari petani di negara-negara tersebut.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden juga telah mengindikasikan bahwa mereka akan mendorong perubahan pada industri pertanian untuk mengatasi perubahan iklim.

"Orang Amerika membesar-besarkan kebohongan ini bahwa perubahan iklim adalah karena pertanian dan perubahan iklim tidak akan lebih baik sampai petani dan peternak lebih baik," kata Stephanie Nash, seorang peternak sapi perah.

Mengutip Fox News, Jumat (5/8/2022), pada 2020 EPA memperkirakan bahwa 11 persen dari total emisi gas rumah kaca AS berasal dari sektor pertanian. Bandingkan dengan jumlah yang lebih besar seperti 27 persen dari transportasi, 25 persen dari energi, dan 24 persen dari industri.

Hal ini mendorong Departemen Pertanian untuk menggunakan dana bantuan pertanian untuk memberi insentif pengurangan emisi karbon di pertanian. Nash khawatir upaya untuk menerapkan kebijakan hijau akan mematikan industri pertanian yang sudah berjuang menghadapi melonjaknya biaya tenaga kerja, bahan bakar, benih dan pupuk.

Dia mengatakan lembaga seperti Forum Ekonomi Dunia "menakutkan kita" dengan prediksi bahwa pada 2050 populasi global akan menuntut 70 persen lebih banyak makanan daripada yang dikonsumsi saat ini. Ia menganjurkan fokus lebih baik ditujukan pada perbaikan produksi pangan untuk memenuhi pasokan.

Regulasi Hijau yang Rugikan Petani

Banyak petani dan peternak di berbagai negara protes atas kebijakan hijau yang sangat merugikan. Pada Juni 2022, para petani di Belanda yang marah membawa dua sapi ke Den Haag dan mengancam akan menyembelih hewan ternak tersebut. Hal itu merupakan bagian dari protes atas regulasi iklim Belanda yang dapat mengurangi populasi ternak hingga 30 persen.

Baca Juga: Peternak Sapi Perah di AS Sebut Kebijakan Iklim Justru Ancam Pasokan Pangan
Dianggap Menjijikan, Begini Awal Mula Kisah Susu di Indonesia

Belanda disebut sebagai salah satu penghasil gas rumah kaca terbesar di Eropa. Oleh sebab itu, Negeri Kincir Angin tersebut berencana mengurangi separuh produksi nitrogennya pada 2030. Rencana pemerintah Belanda adalah dengan menutup beberapa peternakan. Pupuk kandang dan pupuk dari ternak diklaim menjadi penyebab besarnya nitrogen. 

"Jika langkah-langkah kebijakan nitrogen diadopsi, salah satu dari dua (sapi) betina ini tidak akan pulang, tetapi akan menerima tiket sekali jalan ke rumah jagal," kata petani bernama Koos Cromwijk di depan Parlemen.

Video Terkait