Mengenal Ritual Mayu Desa, Lembu dan Ayam Disucikan Sebelum Disembelih

Ritual Mayu Desa. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 22 Juli 2022 | 18:10 WIB

Ratusan warga suku tengger di Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo menghadiri ritual mayu desa. Ritual ini digelar lantaran beberapa bulan lalu, kawasan ini mengalami pergantian kepala desa.

Kepala Desa Jetak, Ngantoro mengatakan ritual mengayu-ayu desa atau mayu desa ini dimaksudkan untuk mempersatukan kembali warga usai pemilihan kepala desa (pilkades).

“Jika dulu ritual mayu desa merupakan syukuran atau adat yang dilakukan sewindu sekali atau tepatnya delapan tahun sekali. Namun sekarang ritual ini digelar setiap selesai pemilihan kepala desa baru, yang belum pernah menjabat. Tujuannya untuk menyatukan kembali warga setelah pilkades,” terang Kades Jetak, Ngantoro kepada Sariagri, jum’at (22/7/2022).

Dalam ritual ini, warga suku tengger membawa sesajen berupa hasil alam, seperti pisang kepok, ayam, bunga edelweiss, hingga jajanan.

“Bunga edelweis tidak hanya indah, tetapi juga juga sakral, terutama bagi suku Tengger. Bunga ini menjadi salah satu hiasan atau persyaratan upacara adat suku Tengger,” imbuhnya.

Ritual diawali dengan doa bersih desa, kemudian dilanjutkan dengan menyembelih seekor lembu merah sebagai hewan kurban dan dilakukan pembacaan doa oleh dukun pandita setempat.  

“Selain itu sesajen hewan kurban seperti ayam dan sapi sebelum disembelih disucikan terlebih dulu. Ritual Mayu desa, diawali reresik menyucikan semua yang di pergunakan untuk upacara Mayu Desa, agar acaranya lancar, selamat dengan ijin tuhan yang maha esa,” kata dia.

Lebih jauh Ngantoro membeberkan seluruh sesajen ayam, kepala sapi, jajanan, buah dan bunga ditempatkan di ongkek yang terbuat dari jenis bambu betung.

Mengenakan pakaian adat Tengger serba hitam, ratusan warga suku tengger membawa sesaji itu dengan memikulnya bersama-sama dan berjalan kaki menuju Punden Sanggar di kaki lereng gunung bromo sejauh 3 KM.

“Sesajen tersebut kemudian diarak keliling desa dengan harapa mampu membersihkan desa dari pengaruh negatif. Selama keliling desa, sesajen diarak dengan diiringi musik gamelan,” ujarnya.

Untuk sampai ke punden, mereka menyusuri jalan perkampungan hingga ladang pertanian di sekitar perbukitan kawasan Gunung Bromo. Selanjutnya di punden, sesaji dan kepala sapi itu dibacakan mantera-mantera oleh dukun pandita,

“Untuk sesaji dibagikan ke warga. Sedangkan kepala sapi dibungkus kain putih lantas dikubur di dalam area punden,” terangnya.

Baca Juga: Mengenal Ritual Mayu Desa, Lembu dan Ayam Disucikan Sebelum Disembelih
Sedih, Warga Terpaksa Berkurban Ayam karena Tak Mampu Beli Sapi dan Kambing

Ngantoro menambahkan sebelum ritual, warga melaksanakan kegiatan bersih desa, bertujuan  membersihkan energi negatif di desa. Sehingga melalui ritual ini tali persaudaraan dan kekeluargaan warga desa kembali kuat.

“Meleburkan semua perbedaan dukungan politis selama kontestasi pilkades berlangsung, sehingga masyarakat kembali satu suara dan mendukung pemerintahan kepala desa yang baru  guna mendukung kemajuan desa. Harapannya warga bisa kembali bersatu, guyub dan rukun," pungkasnya.

Video Terkait