Laporan Khusus: Menilik Sarang Walet, Komoditas Ekspor Andalan Tanah Air

Menilik sarang burung walet (Sariagri/Faisal Fadly)

Editor: Tanti Malasari - Jumat, 15 Juli 2022 | 16:00 WIB

Sariagri - Berbicara tentang kekayaan alam yang dimiliki tanah air memang tak ada habisnya. Terbentang dari Sabang hingga Merauke, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati, yang menampilkan keunikannya masing-masing.

Salah satunya yang terkenal dan menarik untuk ditelusuri adalah burung walet. Burung dengan nama latin Apodidae ini, dikenal mampu menghasilkan sarang yang lain dari biasanya. Sarang ini terbuat dari air liur burung walet murni tanpa campuran atau terkontaminasi dari bagian lain.

Tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk bersarang, bertelur, menetaskan dan membesarkan anak burung walet, tetapi sarang burung walet juga memberi banyak manfaat untuk kesehatan tubuh manusia.

Hal ini dikarenakan sarang burung walet banyak memberikan manfaat antara lain yaitu pengobatan berbagai macam penyakit dan juga menjaga kesehatan kulit. Sarang burung walet juga dijuluki sebagai kaviar dari Timur karena kelezatannya yang melegenda sekaligus harganya yang luar biasa.

Bahkan sarang burung ini disebut-sebut sebagai komoditas ekspor andalan yang bernilai ekonomi tinggi. Hasil ekspor burung ini ternyata mampu mendatangkan devisa yang besar untuk negara.

Indonesia penghasil burung walet terbesar di dunia

Indonesia dikenal sebagai negara penghasil sekaligus eksportir utama sarang burung walet terbesar di dunia, dengan produksi sekitar 700 ton per tahun. Urutan selanjutnya disusul negara Singapura, Cina, Hong Kong dan Malaysia.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah mengatakan, daerah penghasil sarang walet terbanyak di Indonesia berada di Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, dan Gugus Pulau Nusa Tenggara Barat. Kemudian disusul Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, meski jumlahnya tidak terlalu besar.

Banyaknya sarang burung walet yang diekspor, berdampak pada peningkatan perekonomian nasional dengan menambah tenaga kerja atau lapangan kerja, dan menambah devisa negara melalui ekspor non migas.

Nasrullah mengungkapkan dari tahun 2012 sampai 2022 nilai ekspor sarang walet sekitar 2.8 miliar USD. Ia menilai devisa yang diperoleh dari ekspor sarang burung walet menyumbang lebih dari 50% seluruh nilai ekspor subsektor peternakan dan kesehatan hewan.

Negara tujuan ekspor sarang burung walet (Sariagri/Faisal Fadly)
Negara tujuan ekspor sarang burung walet (Sariagri/Faisal Fadly)

Menurut data Badan Pusat Statistik dan Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian, ekspor sarang walet tahun 2018 yaitu 1.291 ton, dengan nilai berkisar 290.5 juta USD atau jika dirupiahkan mencapai Rp4,2 triliun. Sementara tahun 2019, sarang walet yang di ekspor meningkat menjadi 1.258 ton atau senilai 364 juta USD (Rp5,2 triliun).

Lalu pada tahun 2020 setidaknya ada 1.317 ton atau sekitar 540.6 juta USD (Rp7,8 triliun). Kemudian tahun 2021 setidaknya 1.510 ton sarang burung walet yang diekspor, atau senilai USD 517.4 juta USD (Rp7,5 triliun). Dan data terakhir pada tahun 2022 sampai bulan April lalu, sebanyak 297,16 ton yang mana senilai sekitar 162.25 juta USD atau sekitar Rp2,3 triliun.

Sebenarnya konsumen pertama dari sarang burung walet adalah negara Cina. Namun, karena banyaknya kendala untuk pengiriman ke Cina, Indonesia lebih banyak mengekspor ke negara ketiga terlebih dahulu, seperti Hongkong, Malaysia, Singapura, Vietnam bahkan Amerika Serikat.

Kendati demikian, harga ekspor sarang walet masih mengalami fluktuasi harga. Nasrullah menerangkan naik turunnya harga sarang walet dipengaruhi oleh meningkatnya produksi di dalam negeri.

Sementara ekspor ke negara yang membeli harga sarang burung walet dengan nilai tinggi seperti negara Cina, masih terbatas. Hal ini karena jumlah pelaku usaha yang telah diakreditasi oleh Cina dibatasi, mengingat persyaratan yang diterapkan oleh Cina sangat ketat.

"Sementara ekspor untuk negara non Cina pasar lebih terbuka namun harga beli tidak setinggi ketika mengekspor ke Cina, hal ini sangat berpengaruh terhadap harga sarang walet di dalam negeri," ujarnya kepada Sariagri.

Sejarah Burung Walet

Keberadaan sarang burung walet ini sendiri diketahui sudah ada di Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Ketua Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI) Wahyudin Husein, mengatakan bahwa dunia perwaletan di Indonesia sebenarnya sudah berlangsung sejak perjalanan Laksamana Cheng Ho menyambangi Nusantara.

Kala itu, sarang burung walet sudah banyak dikenal di Cina. Laksamana Cheng Ho sudah membawa sarang burung walet untuk dikonsumsi dan diperkenalkan di Cina.

"Walet itu awalnya banyak dibudidayakan di gua-gua hutan, tapi pada perkembangannya, ada orang-orang yang melakukan budidaya waley yang dulunya di gua berpindah ke rumah-rumah. Itu berlangsung sekitar abad ke-17," ujar Wahyudin kepada Sariagri.

Di zaman itu sarang burung walet sudah menjadi komoditas yang bernilai tinggi. Seiring dengan imigrasi rakyat Cina yang berimigrasi ke Nusantara, maka semakin banyak proses perdagangan sarang burung walet.

Menurut Wahyudin di Indonesia sendiri, budidaya sarang burung walet awal mulanya banyak dilakukan di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Pulai Jawa, mulai dari daerah Anyer hingga Panarukan. Kini diketahui budidaya ini telah tersebar luas di seluruh Indonesia.

"Jadi sepanjang pantura jawa itu mulai dari Gresik, Tuban, Lasem, sampai ke Jawa Barat seperti Indramayu dan Cirebon sampai ke Anyer, Banten. Nah sepanjang itu sudah banyak orang yang melakukan budidaya walet di rumah-rumah," ucapnya.

Bukan tanpa alasan, sebab pada dasarnya budidaya sarang burung walet ini bisa dilakukan siapa saja, baik secara mandiri maupun dengan membentuk kelompok atau perusahaan.

Satu rumah produksi burung walet bisa menghasilkan panen yang bervariasi, tergantung dari besaran rumah produksi. Wahyudin mengungkapkan satu rumah produksi bisa panen rata-rata 1-5 kg. Bahkan ada yang sampai ratusan kilogram sekali panen. Proses panen komoditas sarang burung walet berkisar 40 hari hingga 2 bulan.

"Besaran panen ini tergantung besar kecilnya rumah walet dan hasil produksi di rumah-rumah walet tersebut. Dalam satu tahun kira-kira bisa panen 4 hingga 7 kali," terangnya.

Jenis-jenis sarang burung walet yang diperdagangkan

Jenis-jenis sarang burung walet (Sariagri / Faisal Fadly)
Jenis-jenis sarang burung walet (Sariagri / Faisal Fadly)

Pada dasarnya, burung walet menghasilkan berbagai jenis sarang burung walet. Variasi ini dipengaruhi pada jenis burung walet, bentuk, ukuran dan warna sarang burung walet itu sendiri. Namun setidaknya, ada 5 jenis sarang burung walet yang umumnya dikonsumsi, yaitu:

1. Sarang Putih (Edible-nest Swiftlet, Yen-ou)

Sarang burung walet putih ini dihasilkan oleh jenis walet Aerodramus fushipagus. Biasanya sarang ini ditemukan di gua dan rumah (gedung). Ciri khasnya terletak pada warna putih kekuningan, tebal dan terdapat bulu yang menempel.

Umumnya ukuran sarang burung walet ini adalah 6-10 cm, dengan tinggi mangkukan ± 4-5 cm.

2. Sarang Hitam (Black-nest Swiftlet, Mo-yen)

Jenis sarang burung walet hitam ini dihasilkan oleh burung walet jenis Aerodramus maximus. Sesuai namanya, warna sarang burung walet ini memiliki warna hitam pada kaki, dinding dan dasar sarang.

Hal ini dikarenakan air liurnya telah bercampur dengan bulu-bulu tubuhnya. Untuk ukuran lebar sarang burung walet hitam berkisar antara 5-7 cm.

3. Sarang Rumput (White bellied swiftlet)

Sarang burung walet ini dihasilkan oleh walet Collocalia esculanta, Aerodramus fuciphagus atau maximus. Sarang burung walet memiliki warna kehijauan, karena air liurnya telah bercampur dengan lumut, rumput kering, daun pinus, dan cemara.

4. Sarang Sriti Lumut ( Chao yen, mostnest swiftlet)

Jenis sarang burung sriti lumut dihasilkan oleh walet Collocalia vanikorensis. Sarang ini berasal dari campuran air liur sebanyak 2-3 gram dan lumut. Ketika masih baru, sarang ini berwarna hijau, namun ketika sudah lama warnanya akan berubah menjadi cokelat kehitaman dan kering.

5. Sarang merah (Red nest, Siek Yen)

Jenis yang terakhir, yaitu sarang burung walet merah. Sarang ini dihasilkan oleh burung walet Aerodramus fuciphagus. Ciri sarang burung walet merah berkualitas ditandai dengan warna merah, dan tidak dijumpai noda atau kotoran yang menempel. Sarang burung walet merah berdiameter ± 9 cm dan bobot sarang mencapai 9 gram.

Jenis ini bisa dikatakan cukup langka, sebab sarang burung ini diproduksi pada musim penghujan yang berasal dari rumah wallet dengan kelembaban udara yang sangat tinggi. Hal ini membuatnya relatif lebih mahal dibandingkan jenis sarang burung walet lainnya.

Kendala budidaya sarang burung walet

Selama pandemi, penjualan sarang burung walet tidak berdampak sama sekali. Justru terpantau permintaan sarang burung walet semakin tinggi. Namun sayangnya, peternak sarang burung walet kerap mengeluhkan berbagai macam hal terkait prosedur.

Ketua Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI) Wahyudin Husein, menerangkan bahwa syarat sarang walet lolos untuk diekspor sebenarnya sudah diatur dalam perjanjian Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Cina yang dikenal dengan MoU Impor Protokol.

Aturan tersebut menjabarkan kualitas ekspor sarang walet yang ingin diekspor ke Cina. Namun, sayangnya implementasi dari aturan tersebut tidak ramah pada pengusaha walet.

Tidak semua orang bisa memenuhi persyaratan itu. Hanya perusahaan besar saja yang bisa memenuhi persyaratan itu, sehingga kelompok-kelompok UMKM itu yang punya kelas industri plasma tidak bisa menjangkau.

Mereka yang sudah puluhan tahun menjalani usaha ini tidak bisa memenuhi karena aturan tersebut menyulitkan," ungkapnya.

Padahal bisnis sarang burung walet ini memiliki prospek dari sisi ekonomi untuk menghasilkan devisa cukup besar. Dan dari sisi ketenagakerjaan juga menyerap banyak pekerja.

Baca Juga: Laporan Khusus: Menilik Sarang Walet, Komoditas Ekspor Andalan Tanah Air
Pemkot Banjarmasin Minta Pengusaha Walet Jujur Bayar Pajak

Ada 1,5 juta orang yang dibutuhkan untuk usaha walet ini. Sehingga pemerintah perlu membuat regulasi dalam rangka untuk meningkatkan baik produksi maupun ekspor.

Wahyudin berharap dengan sarang walet yang sudah begitu melegenda di Indoenesia, komoditas satu ini perlu dipertahankan bahkan diusulkan ke UNESCO sebagai kearifan budaya. Sementera untuk pemerintah, ia berharap agar ada regulasi dalam rangka perbaikan dan percepatan ekspor sarang walet.

Reporter: Rashif Usman

Riset infografis: Putri Ainur Islam

Infografis: Faisal Fadly

Video Terkait