Jumlah Ternak Naik, Selandia Baru Berencana Kenakan Pajak Metana

Ilustrasi peternakan. (Foto: Unsplash)

Editor: Putri - Senin, 11 Juli 2022 | 12:20 WIB

Sariagri - Selandia Baru adalah salah negara dengan jumlah ternak cukup besar, khususnya sapi. Untuk mengatasi masalah emisi gas rumah kaca dari peternakan dan pertanian, Selandia Baru berencana meluncurkan proposal pajak emisi.

Pada musim panas lalu, Selandia Baru adalah rumah bagi 6,3 juta ekor sapi perah, naik 82 persen selama dua dekade terakhir. Negara ini juga memiliki 3,8 juta sapi potong, 800.000 rusa, dan 26,8 juta ekor domba. Jumlah tersebut termasuk banyak untuk negara berpenduduk sekitar lima juta orang.

Namun banyaknya hewan peternakan menimbulkan persoalan berupa emisi metana, terutama dalam bentuk sendawa dan kentut sapi. Untuk ternak, sekitar 90 hingga 95 persen metana yang dihasilkan berasal dari sendawa.

Melansir Modern Farmer, Senin (11/7/2022), pertanian bertanggung jawab atas lebih dari setengah produksi metana di seluruh Selandia Baru dan metana merupakan penyumbang besar pemanasan global dan polusi udara. Dalam upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, pemerintah meluncurkan proposal pajak baru bulan lalu.

Pada 2025, semua peternakan di seluruh Selandia Baru harus mengelola emisi gas rumah kaca mereka dan membayar retribusi sesuai dengan berapa banyak yang mereka keluarkan. Mereka juga bisa mendapatkan kredit untuk menanam tanaman yang menyerap karbon, termasuk pohon. Pajak ini akan menjadi yang pertama dari jenisnya secara global.

Rencana tersebut disusun oleh pemerintah Partai Buruh yang berkuasa, dipimpin oleh Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern, bersama dengan kelompok-kelompok sektor primer. Kemitraan pemerintah dan industri bernama He Waka Eke Noa, dari pepatah M?ori, yang berarti “kita semua bersama-sama.”’

Meskipun Menteri Perubahan Iklim James Shaw mengatakan bahwa sistem penetapan harga emisi akan memainkan peran penting dalam bagaimana negara itu mengurangi emisi metana, rencana tersebut memiliki beberapa pengkritik.

Juru bicara pertanian Partai Hijau, MP Teanau Tuiono, mengatakan tidak jelas apakah rencana tersebut akan membantu negara mencapai tujuan mereka menjadi nol bersih pada tahun 2050.

Baca Juga: Jumlah Ternak Naik, Selandia Baru Berencana Kenakan Pajak Metana
Capai 15 Ribu Ekor Ternak, Wabah PMK di Lombok Terus Meningkat



Beberapa petani Selandia Baru telah meminta masukan dalam struktur penetapan harga pajak. Sementara itu, aktivis lingkungan lainnya mengatakan keputusan itu tidak akan efektif. Sebaliknya, mereka menyerukan pengurangan drastis jumlah ternak, dengan mengatakan itu satu-satunya cara untuk benar-benar mengurangi emisi.

Proposal dan pedoman penetapan jumlah pajak yang harus dibayar masih diperdebatkan. Menteri Iklim Shaw mengatakan pemerintah perlu melanjutkan konsultasi sebelum menjalankan kebijakan itu. Keputusan diharapkan dapat ditentukan pada akhir tahun.

Video Terkait